Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN
 
 
mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Telekonferensi Arizona-Kampus Sekaran: Belajar Mengenal Otak      
 

Suasana peserta konferensi

Brain-based Learning dan  Learner-centered Approach, demikianlah dua tema presentasi yang disajikan dalam telekonferensi di Kampus Sekaran pada 26 November 2010 lalu. Guru relawan yang bersedia berbagi waktu dan gagasan ini adalah Mbak Sidrotun Naim, yang saat ini berada di Amerika Serikat menyelesaikan program doktoral  bidang Environmental Science, University of Arizona.

Perkenalan dengan Mbak Sidrotun Naim di jaringan 1000guru.net diawali melalui Mbak Witri Wahyu Lestari. Permintaan yang kami ajukan adalah untuk memberikan motivasi dan pencerahan kepada mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris dalam program bimbingan akademik yang rutin kami berikan. Alhamdulillah, pada bulan Oktober lalu Mbak Naim menyatakan kesediaan beliau. Sungguh suatu kehormatan bagi kami bisa melibatkan Mbak Naim seorang akademisi yang aktif di dunia penelitian internasional. Beliau adalah salah seorang penerima  L’Oreal-UNESCO For Women in Science award 2009 dan Schlumberger Foundation Faculty for the Future award 2010.

Acara agak mundur karena juga disebabkan menunggu kehadiran mahasiswa yang sebagian besar masih berada di kelas. Ada yang permisi dari awal tidak dapat mengikuti dan ada yang di tengah sesi permisi keluar karena ada quiz yang harus diikuti pada jam yang bersamaan. Jumlah peserta yang akhirnya bertahan sampai akhir sesi berjumlah sekitar 10 mahasiswa. Setelah persiapan masing-masing, baik di Kampus Sekaran dan di Arizona, telekonferensi dimulai sekitar pukul 08.30 WIB. Selisih waktu antara Semarang dan Arizona sekitar 11 jam. Ruangan yang kami gunakan semula adalah ruang Video-Conference tetapi karena mendadak ruangan tersebut akan digunakan untuk rapat oleh pihak Universitas, kami beralih ke ruang pertemuan staf IT Universitas. Layar yang kami gunakan adalah whiteboard sehingga saat diambil gambar hanya terpantul cahaya putih tanpa bayangan tampilan dari LCD.

Mbak Fatma Hetami, dosen Sastra Inggris Unnes, membuka acara dan mempersilakan Mbak Naim untuk menyajikan materi yang telah dipersiapkan. Sebenarnya, yang tampil sebagai penyaji bukan hanya Mbak Sidrotun Naim seorang. Beliau didampingi oleh suami, Pak Dedi Priadi dan juga sang jagoan kecil, Elhurr Zohaeri Nur Muthahhari. Hari itu kebetulan bertepatan dengan hari Thanksgiving yang dirayakan oleh orang-orang di sana. Pada saat telekonferensi pun, Mbak Naim berada di salah seorang temannya yang menjadi tempat berkumpul merayakan hari syukuran tersebut.

Sajian bertemakan Brain-based Learning dibawakan oleh Pak Dedi Priadi. Beliau adalah seorang peneliti yang berfokus pada bidang pendidikan. Saat ini beliau juga tengah melakukan penelitian di sana terkait aktivitas otak dan belajar. Jadi, sungguh suatu kehormatan pula bagi kami bahwa Pak Dedi bersedia berbagi ilmu dan motivasi untuk belajar mengenal otak manusia yang terkait dengan kebiasaan belajar.

Materi presentasi sebelumnya telah dikirim melalui surat elektronik. Kesepakatan kami adalah menggunakan fasilitas Skype dan materi ditayangkan dari komputer di kampus Sekaran. Jadi, saya siap menerima instruksi untuk menayangkan slide demi slide, pada saat materi disajikan.

Mengawali sesi, ada kutipan yang ditampilkan pada layar dari Winston Churcill, “The Empires of the future are the Empires of the Mind”. Selanjutnya,  Pak Dedi membuka sesi dengan semacam permainan. Slide demi slide berikutnya diminta untuk ditampilkan sesuai permintaan pemateri karena peserta tidak diperbolehkan mengetahui slide berikutnya. Dimulai dari permainan warna pada tulisan kata demi kata yang mewakili warna. Namun, kata yang tertulis tidak sesuai dengan masing-masing warna. Misalnya, kata merah ditulis dalam warna biru dan hijau dalam warna hitam. Pak Dedi meminta peserta untuk membaca dengan keras satu per satu kata-kata yang ditampilkan. Lalu, peserta diminta tanggapan apa yang dirasakan pada saat membaca. Menurut Pak Dedi, jika ada semacam pertentangan di benak bahwa kata yang dibaca tidak sesuai dengan warna yang ditampilkan, yang terjadi adalah otak kanan sedang bekerja. Sementara itu, otak kiri terus bekerja untuk membaca sesuai tulisan yang ada.  Ada dua slide lagi yang berperan membuka sesi, meminta partisipasi dari peserta untuk membaca dan juga memperhatikan gambar yang seolah seperti bergerak.

Selanjutnya, memasuki materi tentang otak, perihal bagian-bagiannya yakni otak kanan dan otak kiri. Dari dua bagian utama inilah kita mengenal 4 macam model belajar dan berpikir seseorang. Berikut ini gambaran yang dikutip dari slide presentasi yang bertajuk Brain-based Learning: Practical Teaching with the Brain in Mind, Sidrotun Naim 2010.

Penjelasan dari Pak Dedi Priadi, orang yang berkecenderungan berpikir dengan otak kiri (A dan B) biasanya adalah seorang yang suka pada hal yang matematis dan fisik. Otak kiri terbagi menjadi dua bagian lagi yang memiliki karakter khas masing-masing. Tipe A cenderung bersifat logis, suka menganalisa, membutuhkan bukti yang nyata, suka pada hal yang terkait angka dan tipe B suka pada hal yang teratur, berurutan, terencana dan terinci. Sementara itu, otak kanan cenderung erat dengan hal-hal yang sosial dan emosi. Otak kanan juga terbagi dua (C dan D). Tipe C cenderung bersifat emosional, suka bergerak, mengutamakan perasaan, dan hubungan dengan pihak-pihak lain sementara tipe D memiliki kekhasan berpikir menyarikan sesuatu, terpadu, intuitif dan holistic.

Selanjutnya, Pak Dedi mengisahkan keunikan-keunikan pada masing-masing kecenderungan model berpikir dan belajar sesuai tipe A, B, C, dan D. Juga ditambahkan tentang kecenderungan pekerja yang dibutuhkan di dunia industri yang berubah dari zaman ke zaman dari putaran tahun 1960an, 1970an, 1980an hingga 1990an yang bergerak dari focus pada otak kiri hingga bergeser ke otak kanan, seperti yang tergambarkan pada kutipan dari slide ini:

Banyak hal yang bisa dipelajari dalam sesi ini, untuk menyadarkan tipe berpikir dan menyesuaikan dengan cara dan kebiasaan belajar. Hal ini penting untuk dipahami, baik untuk kepentingan diri sendiri dan juga kepentingan menghadapi peserta didik dalam aktivitas belajar. Setelah Pak Dedi mengakhiri sesi, ada kesempatan untuk berdialog dengan mahasiswa juga dosen yang mengikuti. Salah satu pertanyaan adalah seputar kontroversi otak tengah. Pak Dedi meyakinkan bahwa dari bidang ilmu psikologi memang hanya dikenal dua bagian otak, yakni otak kiri dan otak kanan. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat memaksimalkan kemampuan kita dengan mengenal cara otak kita bekerja dan belajar.

Sesi berikutnya, disambung kembali oleh Mbak Naim yang menyajikan materi ke-2 yaitu Learner-centered Approach. Menurut Mbak Naim, materi ini sebenarnya bagian dari program kuliah yang diambil beliau. Ini karena setiap jenjang program Master dan Doktoral yang beliau ikuti ada kelas khusus di bidang pendidikan untuk mempersiapkan diri ketika kembali ke kelas di kampus mahasiswa masing-masing. Mbak Naim mengantarkan pada perbedaan model pendekatan di kelas yakni antara teacher-centered dan learner-centered. Dari dua pendekatan ini, pembelajaran yang aktif akan tercipta jika peserta didik diberi kesempatan untuk belajar bersama dengan melibatkan guru. Berbeda dengan model pendekatan yang cenderung berpusat pada guru, bahwa guru sebagai satu-satunya sumber dan berkuasa memberikan penilaian. Pendekatan seperti ini akan berakibatkan peserta didik akan mengalami model belajar pasif. Berikut ini kutipan dari slide yang bertajuk A Learner-Centered Approach to Teaching and Advising, Sidrotun Naim 2010 tentang perbedaan model belajar pasif dan aktif.

Mbak Naim juga berbagi kisah tentang dirinya, mulai dari kebiasaan belajar semenjak kecil hingga telah berkeluarga, pengalaman bekerja hingga mendapatkan berbagai beasiswa. Kepada mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Unnes yang hadir beliau menekankan kemampuan yang wajib dimiliki pada saat sekarang ini justru menuntut kemampuan bahasa Inggris yang handal dan juga menguasai jejaringan dan informasi. Sebagai mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris, salah satu modal sudah didapatkan sehingga tinggal mengasah kemampuan lainnya, termasuk kebiasaan membaca. Semoga dorongan positif baik yang disampaikan pada sesi pertama dan kedua dapat menjadikan mahasiswa untuk terus memacu motivasi dan kemampuan mereka. Harapannya, mereka siap membuka wawasan dan menghadapi tantangan di masa sekarang dan masa depan.

Secara pribadi dan sekaligus mewakili rekan serta mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Unnes, saya menyampaikan banyak terima kasih kepada Mbak Sidrotun Naim, Pak Dedi Priadi, dan 1000guru yang bersedia terlibat dalam program bimbingan akademik kami. Semoga semua mendapatkan manfaat yang baik dan positif.

Salam hormat dari Kampus Sekaran,

Triyoga Dharma Utami

 

back to top
depan