E 1000Guru.net
Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN
 
 
mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan Eatau “tindakan Ebahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Dari Yale ke Kampus Sekaran: Membuka Wawasan melalui Usaha Kecil      
 

 

Telekonferensi Yale-Sekaran 19 November 2010, di ruang video-conference Gedung H Unnes. Ibu Ika Puspitasari, Ibu Rahayu Puji Haryanti, Ibu Latifah (bertanya)

Ika Puspitasari pada saat telekonferensi berlangsung masih berada di Yale, USA. Keberadaan beliau di sana pada saat itu tengah menyelesaikan studi post-doktoral di bidang Neuroendocrine Reproduction di Dept. of Neurobiology, Ribicoff Institute Yale School of Medicine. Tak lama sebelum itu, beliau baru saja menyelesaikan program Ph.D di bidang yang sama di Dept. of Physiology, Faculty of Medicine, Nursing and Health Sciences Monash University. Alumnus Farmasi UGM ini saat ini telah berkumpul kembali bersama keluarga di Jogja dan menunaikan tugas sebagai dosen Farmasi Universitas Gadjah Mada.

Mengenal nama Mbak Ika dimulai sejak keikutsertaan beliau sebagai guru relawati 1000 guru di beberapa sekolah sebelumnya. Hingga pada akhirnya, saya pun terhubung langsung melalui surat elektronik ketika Mbak Ika memberikan tanggapan bersedia menjadi guru relawati di agenda yang saya ajukan melalui milis 1000guru. Sebenarnya, jauh sebelum agenda telekonferensi bertemakan kewirausahaan. Pada waktu itu kami saling bertukar informasi tentang agenda untuk bimbingan akademik mahasiswa dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Pengalaman belajar Mbak Ika di benua Australia dan Amerika tentu sarat dengan hal-hal yang dekat dengan pemakaian bahasa Inggris. Termasuk di dalamnya tentang perbedaan budaya, aksen, pelafalan, dan pilihan kata yang tentunya dapat menjadi menambah pengetahuan mahasiswa kami.

Sungguh hal luar biasa yang terjadi menyangkut pengajuan agenda bertema kewirausahaan melalui milis 1000guru. Ada tanggapan dari Mbak Ika tentang kesediaan beliau untuk berpartisipasi. Ini dikarenakan beliau juga memiliki pengalaman merintis usaha bersama kelompok ibu-ibu dan perempuan di desa-desa. Mbak Ika melakukan pendampingan bersama kelompok ini dalam memproduksi obat-obatan herbal dengan sumber bahan yang berasal dari lingkungan sekitar. Usaha ini juga melibatkan beberapa mahasiswa untuk memenuhi biaya kuliah mereka.

Dengan anugerah tanggapan ini, maka agenda telekonferensi bersama mbak Ika kami rancang khusus diperuntukkan untuk mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, FBS Unnes. Kami meminta presentasi dilaksanakan dengan menggunakan bahasa Inggris, sekaligus meminta Mbak Ika untuk mengisahkan pengalaman hidup di dua benua berbeda yang sama-sama menggunakan bahasa Inggris. Harapan kami, setidaknnya sedikit banyak mahasiswa secara langsung menimba pengalaman dan pembelajaran tentang pemahaman lintas budaya, khususnya dalam hal pemakaian bahasa Inggris. Komunikasi ini terjadi dengan menggunakan surat elektronik dan milis 1000guru.

Kesepakatan pelaksanaan telekonferensi jatuh pada hari Jumat, 19 November 2010. Waktu yang diambil adalah pagi hari di Semarang, yakni pukul 08.00 wib. Selisih waktu antara Semarang dan Arizona sekitar 9 jam. Kami sangat menghargai kesediaan waktu Mbak Ika di tengah-tengah kesibukan beliau menyelesaikan riset untuk dapat kembali ke tanah air pada akhir November ini.

Uji sinyal dilangsungkan pada hari yang sama dengan uji sinyal bersama Mas Ony di Korsel tetapi pada waktu yang berbeda. Mengingat perbedaan waktu 9 jam, uji sinyal bersama Mbak Ika berlangsung pada pukul 07.00 wib hari Rabu, 10 November 2010. Bertepatan dengan hari pahlawan, dan juga kedatangan Obama di Jakarta ?

Alhamdulillah, gambar dan suara jelas sekali meskipun belum menggunakan LCD. Uji sinyal dilakukan di ruang pertemuan staf IT di rektorat dan menggunakan wireless. Semua staf dan dosen sebenarnya melakukan upacara bendera hari pahlawan saat itu, sehingga saya belum bisa menggunakan LCD dan jaringan internet masih sangat sepi digunakan. Uji sinyal berlangsung sekitar satu jam hingga para staf kembali dari upacara. Jaringan menjadi kurang lancar. Untuk mengantisipasi hal ini, pada saat telekonferensi nanti jaringan internet akan menggunakan kabel yang dipasangkan langsung ke komputer, bukan koneksi wireless.

Untuk materi, Mbak Ika menyiapkan slide presentasi dalam bentuk powerpoint dan telah dikirimkan sebelum hari pelaksanaan telekonferensi. Kami sepakat menggunakan skype dan teamviewer. Skype digunakan untuk kebutuhan tampilan melalui video-conference. Teamviewer digunakan untuk kebutuhan tampilan file yang dipresentasikan dan dioperasikan oleh guru relawan. Sebagai antisipasi karena gangguan jaringan, kami sepakat berkas presentasi tersebut dikirimkan melalui surat elektronik. Dengan demikian, jika terjadi gangguan jaringan sehingga teamviewer tidak bisa digunakan, saya akan mengoperasikan slide-slide tersebut sesuai instruksi dari Mbak Ika.

Tiba saatnya telekonferensi dilaksanakan. Ruang yang digunakan adalah ruang video-conference di gedung rektorat. Persiapan dimulai dengan menyambungkan LCD dan pelantang suara di computer yang digunakan untuk presentasi. Awalnya, segalanya tampak tidak ada masalah. Tetapi, sewaktu komputer dipindah agar Mbak Ika dapat menangkap gambar peserta yang hadir, terjadi sedikit masalah suara. Agaknya, persoalan teknis seperti ini hamper bisa ditemukan setiap saat. Kuncinya barangkali, bersabar dengan teknologi. Dan yakin masalah dapat teratasi. Alhamdulillah, akhirnya persoalan ini teratasi dan pelantang suara beraksi.

Presentasi Mbak Ika bertajuk Small Enterprise / Small Business. Mbak Ika menjelaskan terlebih dahulu awal kegiatan beliau berkecimpung dengan kelompok ibu-ibu dan perempuan di desa. Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari Plan International dengan pendampingan dari Mbak Ika tentang hal memproduksi obat-obatan herbal, termasuk pula penyediaan bahan baku dan strategi penjualannya. Dalam hal ini, Mbak Ika menekankan bahwa melakukan usaha adalah suatu proses dan melibatkan banyak pihak untuk berjejaring. Banyak pihak yang menjadi jaringan usaha herbal ini, di pulau Jawa, Kepulauan Riau, hingga luar negeri. Dengan melewati proses dan saling menjaga kepercayaan, produksi dapat berjalan lancar dan keuntungan yang diraih pun tak hanya bersifat material melainkan juga non-material, kepuasan untuk saling berbagi dan bermanfaat untuk sesama.

Kesahajaan beliau dapat disimak lewat penuturan bahwa dirinya hanyalah seorang ibu rumah tangga, masih mendiami rumah dinas dari sang suami yang seorang dokter. Namun tekad beliau untuk terus melakukan penelitian demi penelitian dan melibatkan orang-orang di sekitar merupakan kekayaan yang sebenarnya. Hal ini diungkapkan oleh moderator, Ibu Rahayu Puji Haryanti Kaprodi Sastra Inggris, di hadapan guru relawati dan mahasiswa yang hadir. Menurut Ibu Rahayu, jika selama ini kita mengenal istilah inner beauty, kali ini kita juga belajar memahami makna inner richness.

Pada saat sesi Tanya-jawab berlangsung, tak kurang dari separuh mahasiswa yang hadir mengacungkan tangan. Pada saat itu ada sekitar 20-an peserta mahasiswa, dengan 5 orang dosen yang mengikuti telekonferensi, termasuk moderator. Saat menanggapi pertanyaan mahasiswa, berulang kali Mbak Ika menawarkan kesempatan untuk belajar mengolah tumbuhan menjadi obat-obatan di rumah beliau di Jogja, juga termasuk belajar stratetgi melakukan usaha kecil. Di antara dosen yang hadir, terdapat Ibu Latifah dosen Kimia Unnes yang kebetulan juga aktif memproduksi sabun dan sampo herbal berdasarkan riset yang dilakukan beliau. Tak pelak lagi, dialog antara Ibu Latifah dan Mbak Ika dipenuhi dengan pembicaraan seputar strategi teknis dan kimiawi dalam mengolah ekstrak buah dan sayuran menjadi bahan sabun dan sampo herbal. Pada agenda 15 November, Ibu Latifah juga berperan mengisi persentasi pada sesi akhir bersama seorang dosen Unnes lainnya, Prembayun Miji Lestari dan seorang mahasiswa Unnes, Wahid. Mereka bertiga merupakan perwakilan dari sosok-sosok yang berpikir kreatif dan mandiri yang dapat dikenal dekat oleh mahasiswa Unnes.

Para mahasiswa tampak antusias mengikuti, sejak awal hingga akhir acara. Meskipun ada beberapa yang datang terlambat dikarenakan jam kuliah. Banyak hal yang dipetik, mulai dari pengalaman Mbak Ika belajar di dua benua yang berbeda dengan pemakaian bahasa Inggris yang juga berbeda, pengalaman bekerja bersama orang-orang di desa dan menemukan strategi serta bahan untuk produksi obat-obatan herbal, hingga pengalaman berbuat dan berbagi untuk sesama. Semua insyaallah menumbuhkan semangat dan motivasi mahasiswa untuk membuka mata dan pikiran mereka untuk berbuat yang lebih baik sebagai bekal masa depan mereka.

Terima kasih banyak kami sampaikan kepada Mbak Ika Puspitasari dan kawan-kawan 1000guru. Tetap semangat dan sukses selalu.

Salam hormat dari kampus konservasi di Gunungpati Semarang,

Triyoga Dharma Utami di Sekaran, Gunungpati, Semarang

 

back to top
depan