Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN
 
 
mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Dari Karawang: Terbang dari Jakarta ke Kampus Sekaran, Live on Site      
 

Sesi ke-2 Belajar dari Jepang: Peta Bisnis dan Budaya Orang Jepang

Hasanudin Abdurakhman, Direktur Perusahaan Osimo – Grup Fumakilla, menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Fisika FMIPA UGM, lalu melanjutkan studi S2-S3 di bidang Fisika di Tohoku University, Sendai, Jepang. Tamat S3, beliau bekerja sebagai peneliti tamu di beberapa universitas. Posisi terakhirnya adalah visiting associate professor di Tohoku University. Setelah itu beliau kembali ke Indonesia dan bekerja di sebuah perusahaan Jepang. PT Osimo Indonesia group Fumakilla, produsen obat nyamuk VAPE. PT Osimo berkedudukan di Karawang, Jawa Barat.

Perkenalan dibantu oleh Mas Agung Budiyono melalui surat elektronik, dan selanjutnya rencana kegiatan dibahas langsung bersama Mas Hasanudin melalui telepon dan surel terkait tema dalam presentasi yang akan disampaikan pada hari Senin 15 November 2010. Pengalaman hidup saat menempuh pendidikan sekaligus sebagai visiting professor di Jepang dan mengemban posisi direktur sebuah perusahaan Jepang tentunya teramat sangat berharga untuk dibagikan di kampus Sekaran. Tanpa basi-basipun, Mas Hasanudin yang akrab disapa Kang Hasan oleh rekan-rekannya bersedia meluangkan waktu untuk mendatangi langsung kampus Unnes. Alasan dari Mas Hasan, persis seperti yang disampaikan pada sesi pertama oleh Mas Ony dan Prof. Alp, passion. Ada kepuasaan tersendiri bagi Mas Hasan untuk secara langsung berbagi pengalaman dan motivasi, khususnya seputar membentuk karakter mahasiswa sebagai calon-calon wirausahawan/wati.

Mengenai kesepakatan jadwal, kami agak berhati-hati karena mendekati hari raya Idul Adha. Rencana semula pada tanggal 16 diajukan menjadi tanggal 15. Kepastian mengenai jadwal Idul Adha pun diterima sekitar sepekan sebelumnya, dan ada dua versi yakni 16 dan 17 November.

Persiapan selanjutnya adalah makalah yang dibagikan kepada peserta. Karena memang suka menulis, beliau juga mengirimkan beberapa artikel yang dimuat di blog pribadi, terkait dengan tema dalam presentasi seputar peta bisnis dan budaya Jepang.

Sesi kedua dibuka setelah ada pertunjukan tarian khas Semarangan oleh dua mahasiswi dari Jurusan Seni, Drama, Tari dan Musik. Sebelumnya, penerbangan sempat tertunda selama 1 jam dari bandara Soetta Cengkareng. Kang Hasan tiba di bandara Ahmad Yani sekitar pukul 8.30 wib dan kami langsung menuju kampus Sekaran. Alasan lain mengunjungi kampus Sekaran terungkap, Kang Hasan kangen dengan dunia kampus, termasuk bebauan keringat mahasiswa.

Tampilan presentasi sesi ke-2 menyegarkan suasana di ruangan. Sesi ke-2 ini dipandu oleh Pak Yoyok, dosen Bahasa Jepang. Kang Hasan memulai sesi dengan beranjak dari kursi yang disediakan untuk pembicara dan berjalan mendekati tempat duduk peserta di baris depan. Tayangan di layar dimulai dari gambar Gayus, menyusul tampilan lain dengan anekdot rambut palsu Gayus. Setelah itu, barulah latar belakang dan pengalaman Kang Hasan ditampilkan disertai uraian langsung di depan peserta yang hadir. Perkenalan singkat tentang 1000 Guru juga dimunculkan lewat tuturan Kang Hasan bahwa sebelumnya beliau juga pernah mendatangi langsung kegiatan 1000 guru di sekolah di Jawa Timur.

In action

Menurut Kang Hasan, di Jepang, kompetensi bahasa juga berpengaruh besar dalam lingkungan pergaulan dan tentunya dunia usaha. Dengan kemampuan bahasa Jepang dan memahami makna dengan baik, misalnya, Kang Hasan dipercaya oleh beberapa pihak Jepang untuk menjalankan bisnis dan juga di dunia akademik. Pada prinsipnya, memahami bahasa bagi Kang Hasan juga berupaya memahami bagaimana bahasa tersebut digunakan dan alasan pilihan kata yang digunakan, diurutkan dari asal kata tersebut hingga konteks sosial saat bahasa tersebut dipakai. Bahasa Jepang memang cukup unik ditambah dengan betuk tulisan kanji, yang juga mempunyai aturan mengenai urutan menuliskan satu lambang menjadi satu kata.

Budaya Jepang sangat memengaruhi bagaimana orang-orang Jepang menjalankan usaha mereka, dari tingkatan yang paling awal atau home industry hingga menghasilkan mass production. Langkah-langkah yang diambil sebagai strategi tidak lepas dari nilai-nilai yang tertanam sebagai tradisi. Misalnya, seperti yang diangkat oleh Kang Hasan, suatu hubungan baik (tsukiai) berbasis pada kepercayaan (shinrai). Strategi perusahaan yang diambil misalnya ada produk yang dibuat khusus untuk pelanggan tertentu yang tidak dijual ke perusahaan lain. Sebaliknya pelanggan juga tidak membeli kebutuhannya tersebut dari pasar bebas (dapat disimak lebih lengkap di http://budayajepang.wordpress.com/2010/07/23/tsukiai-dan-shinrai/). Inilah sebabnya banyak produk Jepang awet dan tahan lama sebagai bentuk jaminan kepada konsumen yang dijalin dalam hubungan menjaga kepercayaan.

Semangat yang dibagi tidak hanya seputar dunia wirausaha dengan belajar dari karakter orang Jepang, Kang Hasan juga membagikan semangat agar mahasiswa juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi selain aktif di dalam kelas. Pengalaman beliau semasa mahasiswa beliau rasakan sangat berdampak positif bagi perjalanan hidup selepas menjadi mahasiswa di UGM. Beliau membandingkan jumlah pekerja di perusahaannya yang sebenarnya masih lebih sedikit dibandingkan jumlah mahasiswa dalam kegiatan Jamaah Solahuddin yang beliau aktif menjadi salah seorang pengurusnya ketika kuliah di UGM dulu. Lewat berorganisasi, mahasiswa dapat belajar memahami value, nilai-nilai yang mewakili diri mereka untuk dapat berinteraksi dengan pihak lain.

Ketika sesi bertanya, banyak mahasiswa yang tidak hanya dari Unnes yang mengacungkan tangan. Ada juga dosen yang hadir mengikuti sesi ini ikut melontarkan pertanyaan. Pertanyaan seputar persoalan mengelola bisnis dijawab dengan optimisme dari Kang Hasan. Banyak hal yang dapat dipetik dari presentasi ini. Dan semua disajikan dengan alur yang menyenangkan. Semoga semangat wirausaha dapat membangkitkan kreativitas, kemandirian, serta karakter para mahasiswa untuk lebih cermat menanamkan nilai dan hal positif dalam diri masing-masing.

Selesai

Banyak terima kasih dari kampus Sekaran kepada Kang Hasan dan 1000 Guru. Semoga kerja sama dan silaturahim tetap berlanjut dan makin bermanfaat untuk banyak pihak.

Salam takdim,

Triyoga Dharma Utami

 

back to top
depan