Logo1000Guru
line decor
  - Best viewed in Firefox
line decor




TENTANG KAMI
PERKULIAHAN
 
 
mail to:
web-admin
 
 
 
 
 
 

Logo

 

Siapakah 1000Guru?

Gerakan 1000guru adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bersifat non-profit, non-partisan, independen, dan terbuka. Spirit dari lembaga ini adalah “gerakan” atau “tindakan” bahwa semua orang bisa menjadi guru dan berkontribusi untuk meningkatkan level pendidikan di Indonesia.
Gerakan 1000guru ingin menjawab salah satu permasalahan mendasar dari pendidikan dasar-menengah di Indonesia yaitu "kekurangan guru", baik dari sisi kuantitias, kualitas, maupun penyebaran, dengan memanfaatkan kelimpahan sumber daya manusia yang tersebar di bidang-bidang non-pendidikan dasar-menengah dan yang tersebar di seluruh penjuru planet.
Gerakan 1000guru juga ingin menyambung kembali tali ikatan kultural antara dunia pendidikan dan masyarakat, seperti di masa lalu ketika pendidikan masih berlangsung di lingkup keluarga. Pendidikan adalah satu-satunya aset yang tidak dimiliki oleh makhluk selain manusia, yang sudah terbukti dan akan terus menjadi motor yang memperpanjang nyawa peradaban manusia. Oleh karena itu, pendidikan adalah tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

  Seminar Kewirausahaan untuk Mahasiswa Universitas Negeri Semarang Bersama Jaringan 1000 Guru, 15 November 2010      
 

Pembukaan oleh PD 1 Bidang Akademik Drs. Januarius Mujiyanto, M.Pd setelah para hadirin mengumandangkan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya

Berpartisipasi dalam agenda Global Entrepreneurship Week 15-21 November 2010, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes menggelar kegiatan Seminar Nasional bertemakan Kewirausahaan untuk Mahasiswa. Ketika amanah diturunkan dari Ketua Program Studi Sastra Inggris, dengan senang hati saya menyambut dan langsung merangkai alur kegiatan terkait tema kewirausahaan dan mahasiswa. Sebagai pendamping kegiatan Pramuka di FBS, saya menghubungi kordinator Pramuka untuk menyiapkan diri menggagas rencana kegiatan bersama. Termasuk di dalamnya, menggagas dana kegiatan. Semangat awal yang ingin ditularkan adalah semangat menjadi wirausaha, from zero to hero.

Berpikir persoalan dana, terlintas langsung kegiatan telekonferensi 1000guru. Di antara seribu teman yang ada, saya yakin pasti ada yang berpengalaman dengan dunia wirausaha dan pastinya bersemangat untuk berbagi wawasan, pengetahuan, dan semangat seputar kegiatan wirausaha. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, yaitu fasilitas jaringan internet dan kebutuhan IT lainnya untuk presentasi, saya berpikir kegiatan ini tidak akan memakan banyak biaya. Justru menerapkan pemanfaatan IT sebagai media pembelajaran, sesuatu yang terlekat pada Unnes sebagai institusi pendidikan yang mencetak calon-calon guru. Karena masih dalam suasana memeringati bulan bahasa, rancangan tema yang kami usulkan juga dikaitkan dengan keberadaan FBS, yakni wirausaha dan kompetensi bahasa.

Akhir September, mulailah saya menuliskan surat elektronik ke milis 1000guru, memberikan informasi tentang kebutuhan kami terhadap guru relawan di bidang wirausaha dalam rangka menyemangati mahasiswa untuk berpikir terbuka dan kreatif dengan segala potensi yang dimiliki, dan dalam hal ini adalah kompetensi bahasa. Saya juga memberikan informasi rencana tanggal kegiatan, yakni antara tanggal 15 hingga 21 November 2010.

Alhamdulillah, awal Oktober saya menerima kabar baik tentang tiga guru relawan. Ketiga rekan yang baik hati ini adalah mas Hasanudin Abdurakhman, mas Ony Jamhari, dan mbak Ika Puspitasari. Dengan berbagai persiapan, agenda pun pun disepakati bersama. Untuk tanggal 15 November 2010, Mas Hasanudin Abdurakhman justru bersedia terbang dari Jakarta ke Semarang dan telekonferensi dilakukan bersama mas Ony Jamhari. Untuk hari itu, tema yang diajukan menjadi Belajar dari Korsel dan Jepang, Menggali Potensi di Sekitar. Sementara telekonferensi bersama mbak Ika Puspitasari dari Yale, USA, dijadwalkan Jumat 19 November 2010.

Dari Daejeon ke Kampus Sekaran: Telekonferensi Perdana FBS Unnes

Ony Avrianto Jamhari adalah putra Indonesia lulusan Pascasarjana Komunikasi UI dan mendapatkan kesempatan Fulbright Scholar untuk program Foreign Language Teaching Assistant di School of Education and Communication, Stanford University California selama September 2005 – June 2006. Keberadaan mas Ony di Daejeon dalam rangka kegiatannya sebagai pengajar bahasa Indonesia di Woosong University. Daejeon menurut penuturan Mas Ony tidak terlalu jauh dari Seoul, ibukota Korsel, dengan waktu tempuh sekitar 1 hingga 2 jam dengan transportasi umum yang tersedia di sana. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai Regional Manager di SolBridge International School of Business, Woosong University sejak 2009.

Telekonferensi di ruang bundar (nama diambil karena langit-langitnya)

Setelah diperkenalkan oleh Mas Imron, saya memulai persiapan dengan berkordinasi langsung dengan Mas Ony, melalui surat elektronik. Persiapan meliputi tema yang akan disampaikan, makalah yang dapat dibagikan termasuk daftar riwayat hidup, dan fasilitas IT yang akan dipergunakan. Pada awalnya, kami bersepakat menggunakan skype, yahoo messenger, dan teamviewer, layaknya yang biasa digunakan dalam telekonferensi bersama 1000guru.

Akan tetapi, saya mendapatkan informasi dari Mas Ony bahwa kampus beliau sudah biasa melakukan telekonferensi dengan fasillitas alat telekonferensi dari kampus. Saya tergerak untuk mencari tahu fasilitas tersebut di kampus saya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, staf IT di tingkat universitas menyambut baik permintaan saya untuk memanfaatkan alat telekonferensi di universitas untuk kebutuhan agenda di FBS. Menurut mas Suminar, staf IT kami, fasilitas tersebut termasuk masih jarang dipergunakan meskipun di gedung rektorat kami sudah tersedia pula ruangan video-conference. Jadi, kegiatan telekonferensi di FBS ini merupakan kegiatan telekonferensi perdana di tingkat fakultas.

Berikutnya adalah menguji sinyal. Tes pertama diadakan pada hari Senin, 8 November 2010. Ada kendala pada saat tes awal menggunakan alat telekonferensi, seputar menyesuaikan kode IP address. Saya pribadi tidak terlalu paham tentang persoalan ini tetapi ada dua orang staf IT yang ikut membantu. Kami belum bisa mendapatkan gambar dan suara. Saya sangat berterima kasih sekali kepada mas Ony karena menghubungi saya beberapa kali melalui ponsel. Ini karena ruang telekonferensi di Kampus Woosong berbeda lantai dengan ruangan mas Ony, dan beliau tidak membawa komputernya di ruang telekonferensi tersebut. Ketika diuji dengan skype, tidak ada masalah baik suara maupun gambar.

Kami bersepakat melakukan uji sinyal lagi di gedung rektorat pada hari Rabu, 10 November 2010. Mengingat jadwal telekonferensi bersama Mbak Ika, maka pada hari yang sama juga diadakan uji sinyal dengan menghubungi mbak Ika di Yale, USA, dengan fasilitas skype dan teamviewer. Dengan Alhamdulillah, uji sinyal baik dengan mbak Ika dan mas Ony pada hari itu berjalan lancar. Gambar dan suara sangat jelas kami terima. Pada kesempatan itu, mas Ony menawarkan rencana untuk melibatkan Prof Alp Malazgirt untuk mengisi presentasi bersama pada hari Senin 15 November 2010. Sebuah tawaran dan penghargaan yang luar biasa kami dapatkan karena Prof. Alp mengajar bidang wirausaha di Woosong University. Mengenai bahasa, menurut saya bukan kendala karena moderator presentasi akan dipegang oleh Ibu Rahayu Puji Heryanti, Kaprodi Sastra Inggris. Beliau akan mampu mengalihbahasakan demi kebutuhan peserta yang bukan berasal dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris.

Fasilitas IT yang dipergunakan untuk telekonferensi bersama mas Ony memang khusus. Bentuknya seperti dvd player atau penangkap parabola, yang dilengkapi dengan kamera dan pelantang suara. Untuk dapat saling berhubungan, kedua pihak harus mengetahui kode masing-masing untuk digunakan. Karena bentuknya cukup praktis, alat tersebut dapat dipindahkan posisinya untuk kami pinjam di FBS. Kesepakatan dengan staf IT, alat tersebut dibawa pada hari Jumat, 13 November 2010 sekaligus untuk melakukan uji sinyal di FBS. Alhamdulillah, Jumat itu sekitar menjelang pukul 11 wib, setelah melalui penantian proses mencari kode IP di FBS, kami dapat terhubung dengan mas Ony dengan suara dan gambar yang relatif jelas. Makalah telah terkirimkan termasuk makalah oleh Prof. Alp. Namun demikian karena makalah Prof. Alp menggunakan fasilitas Prezi yang relatif masih baru kami operasikan, kami meminta mas Ony untuk mengalihkannya ke bentuk powerpoint.

Senin 15 November 2010, sekitar pukul 8 wib, kontak ke Daejeon berusaha didapatkan dan lancar tersambungkan. Seminar sendiri dibuka pada pukul 9 wib oleh Pembantu Dekan I Bidang Akademik. Baik Dekan maupun Pembantu Dekan III Bidang Kemahasiswaan tengah melakukan kegiatan di Magelang, dalam rangka meninjau tanggap darurat Merapi. Tak lama, telekonferensi dimulai dengan peserta yang memenuhi Ruang Bundar, ruang pertemuan di gedung dekanat FBS. Total peserta yang dicatat panitia mencapai jumlah 239 orang dan 13 di antaranya berasal dari luar Unnes yakni 6 dari Universitas Diponegoro, 3 dari Universitas Sultan Agung, 1 dari IKIP PGRI, 1 dari Stekom, 1 dari UIN Walisongo, dan 1 dari SKB Salatiga. Tidak semuanya mahasiswa karena ada beberapa rekan Mas Hasanudin yang turut hadir.

Telekonferensi Daejeon-Sekaran, ada kotak-kotak berwarna di layar (contoh gangguan)

Gambar yang ditampilkan pada layar tampak jelas meski terkadang sempat berpendar namun tidak sampai menggangu. Demikian pula suara yang terdengar di ruangan. Cuma sedikit terjadi suara tidak jelas, seringnya bersamaan saat gambar berpendar. Untuk menjamin sinyal, koneksi dihubungkan langsung dengan kabel, buka wireless. Panitia juga menyediakan pelantang suara yang digunakan moderator dan para penanya untuk berinteraksi dalam telekonferensi. Presentasi dari Mas Ony seputar kegiatan yang dilakukan di Woosong University sebagai pengajar bahasa Indonesia termasuk beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan dengan potensi kemampuan bahasa. Demikian pula kegiatan sebagai Regional Manager di Solbridge International Business School. Ada beberapa program pertukaran mahasiswa yang dilakukan dengan fasilitas beasiswa dari pihak Woosong University.

Prof. Alp Malazgirt memberikan masukan untuk menciptakan dan mengolah potensi wirausaha. Kata kunci yang diberikan adalah passion (semangat, gairah, dorongan yang kuat). Dengan landasan ini, apapun yang menjadi gagasan dapat terwujud meskipun tak dipungkiri beberapa kendala yang mungkin ditemukan. Berwirausaha dapat dipelajari yang selanjutnya menjadi bekal untuk menggagas tahapan demi tahapan yang ada dalam hal menyusun strategi, mencermati sumber daya yang tersedia dan mengambil keputusan.

Beberapa pertanyaan mengalir dari peserta, yakni dari mahasiswa seperti seputar langkah-langkah apa yang perlu dipersiapkan mahasiswa untuk mengembangkan wirausaha. Pertanyaan juga datang dari dosen, yang menanggapi kemungkinan kerja sama pertukaran mahasiswa, baik di bidang bahasa maupun wirausaha.

Sesi ini akhirnya selesai sekitar pukul 9 wib. Terima kasih tak terhingga kepada mas Ony Jamhari yang mengajak serta Prof. Alp Malazgirt dan juga beberapa mahasiswa Indonesia yang tengah berada di Woosong University dalam kegiatan telekonferensi langsung dari Daejeon ini. Banyak pesan berupa ilmu dan semangat yang diterima oleh peserta termasuk panitia yang hadir mengikuti sesi pertama. Semoga kerja sama ini bermanfaat bagi banyak pihak dan senantiasa dapat berkembang pada waktu berikutnya.

Salam,

Triyoga Dharma Utami di Sekaran, Gunungpati, Semarang

 

back to top
depan